TERIMAKASIH SUDAH MENGUNJUNGI BLOG KU, TUHAN YESUS MEMBERKATI
MESRI SILALAHI

DAFTAR TELEPON TUHAN (http://bit.ly/kontak)

GodPhoneNumber


Puji TUHAN, anda telah dapat meneleponNYA setiap saat ! Anda hanya perlu untuk memanggilNYA sekali dan TUHAN mendengar anda. Karena YESUS, anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.

TUHAN menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi. Ketika anda memanggil dan TUHAN akan menjawab. Anda akan menangis minta tolong dan DIA akan berkata, “Ini AKU”.

Ketika anda memanggil, gunakan nomor telepon darurat di bawah ini:

PERSOALAN PUTAR  NO  TELEPON
Saat berduka cita Yohanes  14
Ketika dikecewakan sesama Mazmur 27
Jika anda ingin berbuah Yohanes 15
Ketika anda berdosa Mazmur 51
Ketika anda khawatir Matius 6: 19 34
Ketika anda dalam bahaya Mazmur 91
Ketika TUHAN terasa jauh Mazmur 139
Ketika iman anda perlu dikuatkan Ibrani 11
Ketika anda merasa sendiri dan takut Mazmur 23
Ketika hidup anda dalam kepahitan 1 Korintus 13
Untuk rahasia kebahagiaan Paulus Kolose 3: 12-17
Untuk arti keKristenan 2 Korintus 5: 15-19
Ketika anda merasa kecewa dan ditinggalkan Roma 8: 31-39
Ketika anda menginginkan kedamaian dan ketenangan Matius 11: 25-30
Ketika dunia terlihat lebih besar dari TUHAN Mazmur 90
Ketika anda ingin jaminan kekristenan Roma 8: 1-30
Ketika anda meninggalkan rumah untuk bekerja atau berpergian Mazmur 121
Untuk penemuan / kesempatan besar Yesaya 55
Ketika anda membutuhkan keberanian untuk suatu tugas Joshua 1
Supaya  dapat bergaul dengan baik terhadap sesama Roma 12
Ketika anda memikirkan kekayaan Markus 10
Saat anda mengalami depresi Mazmur  27
Ketika anda kesulitan keuangan Mazmur 37
Jika anda kehilangan kepercayaan terhadap orang 1 Korintus 13
Jika orang disekitar anda tampak berlaku tidak  baik Yohanes 15
Ketika anda putus asa dengan pekerjaan Mazmur 126
Jika anda menemukan bahwa dunia mengecil dan anda merasa besar Mazmur  19


Nomor nomor tersebut dapat langsung dihubungi. Operator tidak diperlukan. Seluruh saluran ke Surga terbuka 24 Jam sehari. Bagikan daftar telepon ini kepada orang orang di sekeliling kita. Mana  tahu, mungkin mereka sedang  membutuhkannya.  Jika  diperlukan ajaklah berdoa  bersama
Jika  anda pengguna HP  dapat juga  menghubungi = 081 8 50 15 2 2 33 3
081 8 = Mazmur  81 : 8
50 15 = Mazmur 50 : 15
2 2 = Yunus   2 : 2
333 = Yeremia 33:3

SERING KU TAK MENGERTI

Saudara / Saudari ku? Pernah dengar lagu Sering ku Tak Megerti?

Kalu belum pernah dengar, begini nih liriknya
"Sering ku Tak Mengerti,
 Jalan-JalanMU Tuhan,
 Bagai di Belantara Yang Kelam
 Tanpa Seribu Kata, Namun tetap Percaya,
 JejakMu Tuhan Sungguh Sempurna".

  "Ajarku Memahami Semua yang Kau Ingini
   Agar Hidupku Puaskan HatiMu,
   BagiMu Aku Rela, Sepenuh Hati Menghamba
   Serahkan Diri genapi KaryaMu"

  Nah, itu dia lirik lagunya, lagu ini sangat menyentuh dalam hidupku
  Didalam hidup ini, sering kita tidak memahami apa yang terjadi di dalam hidup
  kita, bahkan kita tidak mengerti.
  Pada saat lagu ini dinyanyikan sama Bpk. Jonny Pardede,
  waduh..rasanya saya ingin  bersama Yesus mempelai Sorgaku,
  sebab hanya dia yang tau semua persoalan Hidupku.

 

YUNUS

Whale Shark








   Datanglah Firman Tuhan kepada Yunus, (Yun 1:1-2)"Bangunlah dan Pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka karena kejahatannya telah sampai kepadaKu"

   Ketika Firman Tuhan itu datang kepada Yunus, dia bukannya mengikuti kata Tuhan tetapi malah dia lari dan tidak melakukan Firman Tuhan tersebut. Akibatnya, ketika dia menompangi kapal yang akan dia gunakan melarikan diri itu dihantam oleh gelombang yang sangat besar. Pada saat itu juga Yunus sedang tertidur dan sepertinya dia tidak merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan.
   
   Yunus akhirnya dibuang ke laut karena dialah yang kena undi. Pada saat dibuang ke lauT, dia ditelan ikan paus dan dia berada di dalam perut ikan tersebut selama 3 hari 3 malam,waktu yang seharusnya dia tempuh untuk sampai ke Niniwe. 

   Yunus hendak lari dari perintah Tuhan, tetapi bukan kehendak Yunus yang terjadi melainkan kehendak Tuhan. Di dalam perut ikan, Yunus berseru kepada Tuhan, bertobat dan memohon ampun atas kesalahan yang dia perbuat. Ahirnya dia ditibakan dan dikeluarkan ikan paus di Niniwe sehingga Firman Tuhan diberitakan di Niniwe.

   Dalam kehidupan kitapun, sering sekali kita mengalami seperti pengalaman Yunus. Sering kita mengartikan Firman Tuhan dengan pengertian kita sendiri, menurut kemauan kita dan kesukaan kita. 

   Hari ini marilah kita bertobat, mengaku kepada Tuhan bahwa kita tidak akan menggunakan akal pikiran kita tapi biarlah akal dan pikiran Tuhan sendiri yang terjadi. Di dalam permasalahan hidup kita, marilah kita berseru kepada Tuhan ,mari kita panggil nama Tuhan Yesus karna hanya dengan cara itulah kita dapat keluar dari berbagai permasalahan hidup yang kita alami.

   Di dalam kitab Yunus ayat yang kedua " Yunus bersyukur kepada Tuhan, memuji Tuhan dan mengagungkan namaNya sekalipun dia berada dalam kegelapan." Oleh karena itu biarlah dalam setiap permasalahanpun kita harus tetap bersyukur kepada Tuhan.

   Pada saat ini, berteriaklah dan berserulah kepada Tuhan maka Waktu Tuhan akan tepat untuk menolong dan menyelamatkan kita seperti yang dialami Yunus yaitu 3 hari 3 malam di dalam perut ikan waktu yang ditempuh untuk sampai di Niniwe.

   Maka bagkitlah dan berserulah kepada Tuhan, akui lakumu si hadapannya niscaya Tuhan Yesus Mempelai Pria Sorga akan menolong kita karna K'slamatan hanyalah dari Dia.
           AMIN
                    HALELUYA
                              TUHAN YESUS MEMBERKATI





Buah buah Roh

Buah-buah Roh
 

Buah-buah Roh adalah suatu manifestasi fisik dari transformasi kehidupan seorang Kristen. Untuk lebih mengerti / dewasa sebagai orang-orang percaya, maka kita seharusnya sudah mempelajari dan mengerti apa itu kesembilan buah-buah Roh .
 
Love ( Kasih )  
                    “ Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan          barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 
(1 Johanes 4:16 ). 
Di dalam Jesus Kristus, tujuan utama kita adalah mengerjakan semua hal dalam kasih. 
“ Kasih itu sabar; kasih itu murah hati . Tidak cemburu / iri , tidak memegahkan diri / tidak sombong. Tidak kasar / tidak melakukan yang tidak sopan , tidak mencari keuntungan diri sendiri / tidak egois, tidak pemarah , tidak menyimpan kesalahan-kesalahan orang lain / tidak dendam . Kasih tidak bersenang-senang dengan kejahatan / tidak bergembira karena ketidakadilan, tetapi bersukacita dengan kebenaran. Kasih itu selalu melindungi, selalu percaya, selalu berpengharapan, selalu bertekun / gigih. Kasih takkan gagal / tidak lupa / tidak lalai. 
( 1 Korintus 13:4-8 ) .
 Through Jesus Christ, our greatest goal is to do all things in love. “Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres. Love never fails” (1 Corinthians 13:4-8).

Joy ( Suka-cita )  
                          “ Suka-cita yang dari Tuhan adalah kekuatanmu “ ( Nehemia 8:10 ).
“ Marilah kita memandang Jesus, yang menjadi sumber dan yang menyempurnakan iman percaya kita , Dia yang mulia dan yang dipuji kemudian rela memikul salib , menerima berbagai pehinaan dan caci maki , dan yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” ( Ibrani 12 : 2 )
“ Let us fix our eyes on Jesus, the author and perfecter of our faith, who for the joy set before him endured the cross, scorning its shame, and sat down at the right hand of the throne of God ” (Hebrews 12:2 ).
Peace ( Damai ) 
                          “ Karena itu, sejak kita telah mempunyai iman percaya yang benar , kita memperoleh damai dari Tuhan melalui junjungan kita Jesus Kristus “ ( Roma 15:13 ) 

“Therefore, since we have been justified through faith, we have peace with God through our Lord Jesus Christ” (Romans 5:1). 

“ Kiranya Tuhan sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sebagaimana kamu percaya padaNya , dengan demikian kamu akan melimpah dengan pengharapan oleh kekuatan dari Roh Kudus “ ( Roma 15:13 )
“May the God of hope fill you with all joy and peace as you trust in him, so that you may overflow with hope by the power of the Holy Spirit” (Romans 15:13).

Longsuffering / patience ( Ketabahan / kesabaran )  
                         Kita “ dikuatkan dengan sangat kuat, sesuai dengan kuasaNya yang maha mulia, untuk semua kesabaran dan ketabahan dengan penuh sukacita “ ( Kolose 1:11 )

We are “strengthened with all might, according to his glorious power, unto all patience and longsuffering with joyfulness” (Colossians 1:11).
“ Dengan segala kerendahan hati dan keramahan , dengan ketabahan / kesabaran , saling memaklumi / saling tolong satu sama lain di dalam kasih “ ( Epesus 4 : 2 )
“With all lowliness and meekness, with longsuffering, forbearing one another in love” (Ephesians 4:2).

Gentleness , kindness ( Jujur dan bertanggung-jawab , murah-hati / baik-hati ) 

                                 Kita harus hidup “ dalam kesucian, saling pengertian, sabar dan baik hati ; di dalam Roh Kudus dan dalam kasih yang tulus ; dalam berbicara selalu yang benar dan dalam kuasa Tuhan ; dengan senjata kebenaran di tangan kiri dan ditangan kanan “ ( 2 Korintus 6: 6-7 )

We should live “in purity, understanding, patience and kindness; in the Holy Spirit and in sincere love; in truthful speech and in the power of God; with weapons of righteousness in the right hand and in the left” ( 2 Corinthians 6:6-7 )

Goodness ( Kebaikan ) 
                                    “ Itulah sebabnya kami selalu mendoakan kalian , supaya Tuhan menjadikan kalian layak masuk dalam daftar panggilanNya, memenuhi kalian dengan kebahagiaan yang baik yang berasal dariNya , dan pekerjaan dari iman dengan kekuatan “ 2 Tesalonika 1 : 11 )

“Wherefore also we pray always for you, that our God would count you worthy of this calling, and fulfill all the good pleasure of his goodness, and the work of faith with power” (2 Thessalonians 1:11).
“ Karena buah-buah Roh adalah berada dalam semua sifat kebaikan , sifat keadilan dan kebenaran “ 
( Epesus 5 : 9 ).

“For the fruit of the Spirit is in all goodness and righteousness and truth” (Ephesians 5:9).

Faith / faithfulness ( Percaya / benar-benar percaya )
                                      “ O yang Mulia, Engkaulah Tuhan penciptaku ku ; aku mengagungkan Mu, aku memuji nama-Mu ; sebab karya-karya-Mu sangat menakjubkan; Engkau selalu membimbing sejak jaman dahulu dengan benar dan terpercaya “ 
(Jesaya 25 : 1 )
” O Lord, thou art my God; I will exalt thee, I will praise thy name; for thou hast done wonderful things; thy counsels of old are faithfulness and truth” (Isaiah 25:1).

“ Saya berdoa agar, walaupun kemuliaanNya yang tiada-tara Ia berkenan untuk menguatkan mu melalui kuasa Roh-Nya kedalam batinmu, sehingga dengan demikian Kristus berkenan tinggal didalam hatimu karena engkau percaya “ ( Epesus 3 : 16:17 )
“I pray that out of his glorious riches he may strengthen you with power through his Spirit in your inner being, so that Christ may dwell in your hearts through faith” (Ephesians 3:16-17).

Meekness ( santun / ramah )  
                          “ Saudara-saudara ! Kalau seseorang didapati melakukan kesalahan / dosa, hendaklah kamu yang hidup lebih rohani membimbing orang itu kembali pada jalan yang benar, dengan cara yang santun / ramah ; dan jagalah dirimu jangan sampai kalian sendiri tergoda juga. “ ( Galatia 6 : 1 )

“Brethren, if a man be overtaken in a fault, ye which are spiritual, restore such an one in the spirit of meekness; considering thyself, lest thou also be tempted” (Galatians 6:1).

  “ Hendaklah kamu selalu rendah hati, santun, dan panjang sabar. Saling membantulah kamu dalam kasih.            ” ( Epesus 4 :2 )

“With all lowliness and meekness, with longsuffering, forbearing one another in love” (Ephesians 4:2).

Temperance / self-control ( kesederhanaan / penguasaan diri )
                     ” Justru karena itu, kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara seiman, dan kepada kasih akan saudara-saudara seiman kasih akan semua orang.” ( 2 Petrus 1 : 5-7 )
But also for this very reason, giving all diligence, add to your faith virtue, to virtue knowledge, to knowledge self-control, to self-control perseverance, to perseverance godliness, to godliness brotherly kindness, and to brotherly kindness love” (2 Peter 1:5-7).

NB : Buah-buah Roh adalah suatu kewajiban ataupun ibadah bagi setiap orang Kristen . Seseorang belumlah dapat dikatakan benar-benar seorang Kristen ( pengikut Kristus ) , bila padanya tak ada melekat sifat yang disebut pada buah-buah roh ( Buah buah Roh Kudus ).

Kelahiran Yesus Kristus Sukacita untuk Semua

Natal yang dirayakan oleh gereja-gereja Tuhan pada umumnya ditandai oleh suasana sukacita dan kegembiraan. Tetapi apakah perayaan Natal yang penuh dengan sukacita dan kegembiraan, juga merupakan peristiwa yang menyenangkan bagi Maria dan Yusuf  2000 tahun yang lalu? Atas perintah kaisar Agustus, Maria dan Yusuf  harus pergi sementara waktu dari kota Nazaret ke Betlehem untuk melaksanakan pendaftaran sensus penduduk. Sebagaimana kita lihat jarak kota Nazaret ke Betlehem sekitar 80-90 mil atau sekitar 150-170 km, maka perjalanan Yusuf dan Maria bukanlah suatu perjalanan yang menyenangkan. Selain perjalanan tersebut sangat jauh dengan cara berjalan kaki atau naik keledai, juga keadaan Maria pada waktu itu sedang hamil tua. Dari sudut ini sebenarnya kisah Natal yang dialami oleh  Maria dan Yusuf  bukanlah suatu kisah yang membawa sukacita atau kebahagiaan. Kesulitan dan penderitaan dalam perjalanan dari Nazaret ke Betlehem yang dialami oleh Maria terjadi sebagai konsekuensi jawaban Maria yang bersedia untuk mengandung dari Roh Kudus (Lukas 1:38). Seandainya Maria menolak panggilan dari malaikat Gabriel untuk mengandung dari Roh Kudus, Maria tidak akan mengalami penderitaan yang seberat ini. Mungkin dia tetap akan berangkat ke Betlehem tetapi bukan dalam keadaan hamil. Seandainya dia menolak perkataan malaikat Gabriel, Maria juga tidak perlu menanggung risiko berupa sanksi sosial dan keagamaan dengan kehamilannya yang di luar kewajaran.

Makna kebahagiaan dan sukacita sering dipahami jikalau kita selalu mengambil keputusan yang serba aman, tidak beresiko atau berhadapan dengan kesulitan.  Dalam konteks ini makna sukacita dan bahagia dipahami jikalau ritme kehidupan ini selalu berjalan serba datar, menjauh dari tantangan, dan mulus tanpa masalah. Tetapi seandainya pula Maria dan Yusuf menolak panggilan Allah demi rasa aman mereka, maka karya keselamatan Allah dalam Kristus juga tidak akan terwujud. Dunia dan umat  manusia tidak akan pernah mengalami kehadiran Allah dalam sejarah kehidupan mereka. Umat manusia sepanjang zaman tidak akan dapat mengalami sukacita sorgawi dengan datangnya sang Raja Kehidupan. Justru melalui kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Maria dan Yusuf, terbukalah wilayah yang luas tanpa batas anugerah keselamatan dari Allah bagi umat manusia. Sehingga melalui kerelaan dan sikap iman yang diperlihatkan oleh Maria telah mewujudkan perkataan nabi Yesaya: “Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang” (Yes. 62:11). Sukacita Natal dapat kita alami secara penuh karena keselamatan dari Allah telah datang!

Keselamatan Allah Telah Datang
Makna sukacita dalam kehidupan sehari-hari seringkali dilepaskan dari keselamatan Allah. Sukacita dalam kehidupan sehari-hari justru seringkali dikaitkan dengan keberhasilan untuk memiliki. Semakin banyak kita memiliki, maka semakin banyak pula kita bersukacita. Tetapi semakin banyak yang kita miliki hilang, maka hilang pula sukacita yang kita miliki. Dengan demikian makna sukacita dan kebahagiaan yang kita miliki berubah-ubah seiring dengan apa yang kita dapatkan dan apa yang tidak kita dapatkan. Ketika nilai saham yang kita miliki merosot jatuh, maka hilanglah segala sukacita yang pernah kita miliki. Ketika investasi atau harta kekayaan yang kita miliki disita, maka hancurlah segala kebanggaan dan kebahagiaan hidup kita. Justru peristiwa Natal hendak menegaskan bahwa nilai atau makna sukacita dan kebahagiaan kita bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi ditentukan oleh seberapa besar kita menyambut keselamatan Allah yang telah datang. Peristiwa Natal justru merupakan momen yang penuh makna saat kita mampu melepaskan segala hal yang kita milliki agar terbukalah ruang hati yang luas untuk menyambut karya penebusan Tuhan atas manusia. Saat hati kita penuh sesak dengan berbagai barang atau milik secara dunia, maka kita tidak dapat menyambut sukacita dan kebahagiaan Natal.

Dalam bukunya yang berjudul “Authentic Happiness” (Kebahagiaan yang otentik), Martin Seligman, yang mana dia termasuk sebagai salah satu pendiri dari psikologi positif menyatakan bahwa kebahagiaan terdiri dari “emosi-emosi positif” (positive emotions) dan “aktivitas-aktivitas positif” (positive activities) yang terentang dari masa lampau, kini dan masa mendatang. Sehingga manakala masa lampau dan masa kini kita penuh dengan kepuasan, rasa bangga dan ketenteraman; serta sikap kita memandang masa depan dengan sikap yang optimistik, berpengharapan dan keyakinan maka niscayalah kita akan berbahagia. Efek dari kebahagiaan yang demikian akan membebaskan diri kita dari penghalang-penghalang emosi, sehingga kita dapat lebih mampu menikmati pekerjaan dan aktifvitas-aktivitas yang lebih kreatif. Dengan cara hidup yang demikian, kita akan dapat mengalami makna hidup yang lebih penuh sebab kita mengarahkan tujuan hidup yang lebih besar dari pada tujuan-tujuan jangka pendek. Pemikiran Martin Seligman tersebut pada satu segi tentunya bermanfaat bagi kita untuk menghayati dan menemukan makna sukacita atau kebahagiaan. Tetapi pandangan Martin Seligman dan seperti para pemikir yang lain umumnya menempatkan makna sukacita atau kebahagiaan sebagai hasil upaya manusia untuk mengelola emosi-emosi secara positif agar dapat menghasilkan kegiatan atau tindakan yang positif. Mereka memandang kebahagiaan sebagai hasil dan upaya manusiawi. Tetapi tidaklah demikian dengan berita Natal. Kebahagiaan dan sukacita pada hakikatnya merupakan anugerah keselamatan dari Allah. Titus 3:4-6, menyatakan: “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita.”  Justru di saat kita gagal untuk berpikir positif dan hidup yang tidak tenteram serta penuh penderitaan, di situlah kita diperkenankan mendengar tentang kemurahan hati dan kasih Allah. Saat hidup kita terpuruk dan tidak berharga, kita memperoleh pengharapan sebab Allah mengasihi kita dalam Kristus.

Penguasa Kehidupan
Injil Lukas menyaksikan bahwa kaisar Agustus telah mengeluarkan suatu perintah yang  memerintahkan untuk mendaftarkan semua orang di seluruh wilayah kerajaannya. Atas perintah kaisar Agustus tersebut, Maria akhirnya melahirkan Yesus di kota Betlehem. Jika demikian, apakah ini berarti kelahiran Yesus di kota Betlehem terjadi karena perintah kaisar Agustus? Bukankah seandainya kaisar Agustus tidak pernah memerintahkan pendaftaran penduduk, maka kemungkinan besar Maria akan melahirkan Yesus di kota Nazaret?  Jika demikian, bukankah yang menjadi penguasa dan yang menentukan riwayat hidup Yesus Kristus adalah kaisar Agustus? Tetapi apabila kita mencermati lebih teliti, maka kita disadarkan bahwa perintah kaisar Agustus tersebut justru merupakan penggenapan dari rencana Allah. Di Mikha 5:1 terdapat nubuat Allah: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”  Allah telah merencanakan karya keselamatanNya yaitu inkarnasi Kristus di Betlehem jauh sebelum kaisar Agustus lahir dan memerintah. Dengan demikian, kaisar Agustus dalam berita Alkitab sebenarnya hanya dipandang sebagai alat di tangan Allah. Perintah kaisar Agustus untuk mendaftarkan semua penduduk di wilayah kerajaan Romawi pada hakikatnya terjadi di bawah kendali otoritas kehendak dan rencana Allah. Sehingga melalui perintah kaisar Agustus tersebut mendorong Maria untuk pergi meninggalkan kota Nazaret ke Betlehem. Ini berarti yang menjadi penguasa kehidupan kita bukanlah pemerintah atau penguasa, tetapi Allah.

Sekilas pemerintah atau penguasa dunia ini mampu mengatur dan mengendalikan berbagai aspek kehidupan kita. Padahal keputusan-keputusan atau kebijaksanaan mereka dalam konteks tertentu merupakan wujud dari rencana Allah bagi kehidupan kita. Namun sayangnya, manusia seringkali menjadikan orang-orang yang berkuasa sebagai tempat untuk bersandar dan sumber berkat. Pada zamannya kaisar Agustus mengklaim dirinya sebagai “kurios” (penguasa atau tuan) bagi seluruh penduduknya. Sebaliknya banyak penduduk yang mendewa-dewakan atau memuja-muja kebesaran kaisar Agustus. Sehingga banyak orang akan merasa bahagia dan sukacita jikalau mereka memiliki hubungan yang dekat dengan para penguasa. Mereka merasa diri lebih aman, tenteram dan terjamin keselamatannya karena merasa dilindungi atau dijaga oleh para penguasa. Pola berpikir seperti inilah yang kelak menghasilkan sikap kolusi. Sebab dalam kolusi, orang-orang yang ingin dekat dan memperoleh keuntungan dari pemerintah bersedia untuk membayar uang pelicin atau uang haram. Sebagai gantinya, pemerintah atau penguasa yang merasa diuntungkan dapat menganggap mereka sebagai “orang-orang terdekat dan terpercaya”. Itu sebabnya dari sikap kolusi dapat berkembang menjadi sikap nepotisme. Lingkaran sikap kolusi dan nepotisme selalu berujung kepada tindakan yang korup. Kini berita Natal justru memproklamirkan bahwa Allah adalah Tuhan yang menjadi pelindung dan Juru-selamat sejati umat manusia. Peristiwa Natal mengkontraskan 2 penguasa, yaitu kaisar Agustus dengan Yesus Kristus!  Keduanya sama-sama raja, tetapi kelak terbukti hanya Kristuslah sang Raja Kehidupan yang mampu mengaruniakan keselamatan, ketenteraman dan kebahagiaan yang sejati. Sehingga tidak mengherankan jikalau Mazmur 97:1 mengungkapkan pujian kepada Allah yang adalah Raja: “TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita!” Yang dipuji oleh bumi dan banyak pulau bukanlah para raja dan penguasa dunia, tetapi Allah yang adalah Raja Kehidupan.

Yang Berkenan Kepada Allah
Sebagai Raja Kehidupan, Allah memiliki hak dan kedaulatan penuh atas hidup manusia. Namun kedaulatan Allah sebagai Raja senantiasa dilandasi oleh rahmatNya yang bebas. Itu sebabnya dalam peristiwa Natal, rahmat Allah justru dinyatakan kepada orang yang berkenan kepadaNya yaitu para gembala di padang Efrata. Para gembala mendengar nyanyian para malaikat memuji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Luk. 2:11). Sukacita dan damai-sejahtera yang dinyatakan dalam nyanyian para malaikat ditujukan kepada orang “yang berkenan kepada Allah”. Ungkapan kata “yang berkenan” (eudakia) dalam Injil Lukas juga dipakai dalam peristiwa baptisan Kristus di sungai Yordan (Luk. 3:22). Makna ungkapan “eudakia” berarti: “good-will” (kehendak mulia), “good-pleasure” (kesukaan), “favor” (kemurahan), “feeling of complacency of God” (perasaan puas akan Allah), “satisfaction” (kepuasan), “happiness” (kebahagiaan), “delight of men” (kegembiraan). Dengan demikian berita sukacita dan damai-sejahtera Natal pada hakekatnya ditujukan kepada orang-orang yang berkehendak mulia, yang hidup dalam kemurahan hati, yang puas dengan pemeliharaan Allah dan bahagia dalam menyambut  berkat Allah. Tepatnya orang-orang yang berkenan kepada Allah menunjuk kepada setiap orang yang hidup benar, yang bersandar kepada Allah, hidup sederhana, bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dan berbahagia atas rahmatNya. Jadi makna “orang yang berkenan kepada Allah” lebih menunjuk kepada kualitas iman dan spiritualitas kasih dari umat percaya.

Dengan demikian berita keselamatan Natal yang membawa sukacita ditujukan kepada setiap orang yang berkenan kepada Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Luk. 2:11). Berita keselamatan Natal senantiasa melampaui  batas-batas: ekonomis, suku, etnis, bahasa, pandangan hidup dan agama. Peristiwa Natal tidak pernah bergerak secara eksklusif, tetapi selalu menyebar secara inklusif “di antara manusia yang berkenan kepada Allah”.  Sukacita dan damai-sejahtera Natal juga tidak mungkin diterima oleh setiap orang yang puas diri, sombong, takabur dan memandang rendah sesamanya.

Sukacita Untuk Kemuliaan Allah
Sikap para gembala yang telah memperoleh kabar gembira dari para malaikat disaksikan: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu (Luk. 2:15-17). Mereka bersukacita dengan apa yang telah mereka terima dan alami. Namun lebih dari pada itu, mereka juga berkomitmen membagikan sukacita keselamatan untuk kemuliaan Allah. Para gembala menjadi para pemberita Injil pertama agar kemuliaan Allah yang telah mereka lihat juga dapat dialami oleh orang lain. Ini berarti sukacita  dan damai-sejahtera Natal bukanlah sesuatu yang sifatnya pasif dan konsumtif. Seharusnya kita bersukacita karena kita dapat membagikan kepada orang lain sehingga mereka dapat berbahagia dan mengalami keselamatan Allah. Bahkan orang yang berkenan kepada Allah mampu menggunakan penderitaan dan tragedi hidupnya sebagai sumber inspirasi yang memberi kekuatan kepada orang lain. Victor Frankl seorang Yahudi yang di Austria (26 Maret 1905 - 2 September 1997) dapat mengilhami kita bagaimanakah mampu bersukacita dan hidup yang bermakna untuk kemuliaan Allah. Pada tahun 1942 dia bersama keluarga dan orang-orang Yahudi lainnya diangkut dengan gerbong kereta api dari kota kelahirannya di Wina, Austria menuju di sebuah kota yang bernama Auschwitz. Mereka dijajar menjadi 2 kelompok kiri dan kanan. Ternyata mereka yang berada di kelompok sebelah kiri semuanya dimasukkan ke dalam kamar gas atau eksekusi tembak. Victor Frankl baru menyadari bahwa yang termasuk di kelompok sebelah kiri adalah ayah, ibu, isterinya yang sedang mengandung dan kakaknya laki-laki. Jumlah yang dieksekusi pada hari itu mencapai 1300 orang. Selama dalam tahanan Victor Frankl seringkali mengalami berbagai kekejaman, penghinaan, kelaparan dan kedinginan. Tetapi semangat hidupnya tidak pernah pudar. Dia belajar bahwa manusia dapat kehilangan segala sesuatu yang dihargainya kecuali kebebasan, yaitu kebebasan untuk memilih atau kemauan akan arti kehidupan. Itu sebabnya dalam bukunya yang berjudul “Man's Search for Meaning”, Victor Frankl mengemukakan psikologinya yang disebut “Logotherapy” sebab mengulas tentang arti dari eksistensi manusia dan kebutuhan manusia akan makna hidup.

Menurut pengakuan Victor Frankl, sumber kekuatan rohaninya diperoleh saat dia menemukan sobekan kertas di jasad temannya. Sobekan kertas tersebut berisi Ul. 6:4-5, yaitu: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”  Ayat Alkitab ini menginspirasi Victor Frankl bahwa makna kasih kepada Allah harus dihayati dengan penuh arti walau kehidupan ini sering sewenang-wenang dan dapat mencabut nyawanya. Victor Frankl mampu mengatasi seluruh penderitaannya, sehingga dia mampu memberi respon yang memperkaya rohani dan pemikirannya. Dia tetap mampu bersukacita dan menemukan arti di tengah-tengah kekelaman dan kekejaman hidup. Setelah dia bebas dari tahanan, Frankl kemudian berperan aktif memberi kekuatan, motivasi dan dorongan untuk menemukan arti hidup bagi banyak orang. Bukankah melalui kisah hidup dari Victor Frankl tersebut kita dapat belajar apa artinya sukacita untuk kemuliaan Allah? Berita Natal juga mendorong dan memanggil kita untuk menemukan arti hidup yang telah dianugerahkan Allah melalui peristiwa inkarnasi Kristus. Tetapi juga berita Natal mendorong dan memanggil kita agar kita tetap menjadi berkat dan sumber inspirasi bagi orang lain di tengah-tengah kekelaman penderitaan yang kita alami. Jika kita telah menerima keselamatan Allah yang telah datang dan nyata di dalam Kristus, maka seharusnya sukacita dan damai-sejahtera kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang kita miliki. Semua yang kita miliki suatu saat akan lenyap dan hilang. Tetapi tidak berarti sukacita dan damai-sejahtera Kristus harus ikut lenyap selama kita mau menjadikan Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja atas kehidupan kita. Di dalam kuasa iman kepada Kristus, kita dimampukan untuk mengatasi diri kita sehingga berbagai kesusahan, permasalahan, dan tekanan hidup tidak pernah berhasil melumpuhkan atau mengalahkan kita. Sebaliknya kita makin dimampukan untuk menjadi berkat keselamatan dan sukacita bagi orang-orang di sekitar kita.

Sukacita sejati
Sukacita dan damai-sejahtera kita ditentukan oleh sejauh mana kita mampu memberi respon iman terhadap segala peristiwa hidup, bahkan yang paling berat dan menyedihkan sekalipun. Ketika kita mampu memberi respon iman yang tepat dengan berlandaskan kepada anugerah keselamatan Allah, maka tidak ada penderitaan, kegagalan, kekejaman dan ketidakadilan hidup ini yang mampu merampas sukacita dan damai-sejahtera kita.  Karena itu sebagai orang-orang yang telah memperoleh kemurahan kasih Allah dalam Yesus Kristus, kita dipanggil untuk menjadi pemberita-pemberita keselamatan yang membawa sukacita dan damai-sejahtera dalam Yesus Kristus. Amin.

Hidup Berkenan Kepada Allah


hidup-berkenan-kepada-allah“…Tidak tahukah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.“ Yakobus 4:4
Keadaan dunia yang semakin tidak menentu menuntut manusia agar selalu menyesuaikan dirinya dengan keadaan dan lingkungannya. Tidak terkecuali umat Tuhan. Banyak umat Tuhan yang ikut berkompromi dengan cara-cara dunia agar mereka dapat diterima atau bahkan dapat mencapai sukses di dalam hidupnya.
Tetapi Alkitab mencatat bahwa persahabatan dengan dunia merupakan permusuhan dengan Allah. Karena manusia tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat 6:24).
Bagaimana supaya kita tidak tercemar oleh keadaan dunia ini sehingga menjadi umat yang berkenan kepada Allah ?
1. Tunduk Kepada Allah
“Karena itu tunduklah kepada Alah …” Yak 4:7a
Kita harus tunduk di bawah kehendak Allah yang sempurna. Miliki roh penundukan diri di hadapan Allah (submission spirit).
Biarlah kita melakukan apa yang berkenan di hati Allah (Gal 1:10).
Lakukan apa yang menyukakan hati Tuhan. Dan biarlah ini yang selalu menjadi kerinduan bagi kita setiap saat. Apapun yang kita lakukan, lakukanlah itu untuk Tuhan (Kol 3:23).
Kuasailah dirimu (1 Pet 4:7) dan jangan kompromi dengan cara-cara dunia.
2. Lawan si Iblis
“…lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu !” Yak 4:7b
Iblis sudah hidup ribuan tahun. Dan dia mempunyai banyak cara untuk menjatuhkan umat Tuhan. Tapi ada satu hal yang dia takuti, yaitu umat Allah yang tunduk kepada Allah dan melawan dia (iblis).
Pakailah seluruh perlengkapan senjata Allah (Ef 6:10-18); kuasa doa, kekuatan iman, pedang bermata dua yaitu firmanNya, untuk melawan si iblis.
Tolak segala cara-cara dunia yang tidak berkenan di hadapan Allah. Iblis tidak akan tahan terhadap perlawanan umat Tuhan.
Kuasa darah Yesus terlalu besar untuk dikalahkan (1 Kor 15:54-55). Iblis akan takut dan lari daripada kita.
Penundukan diri kepada kehendak Allah dan perlawanan kepada si iblis akan membuat kita tidak tercemar oleh keadaan dunia ini.
Dan pada akhirnya kita akan kedapatan kudus, tidak bercacat dan berkenan di hadapan Allah.

Apakah Tuhan Berkenan pada Persembahan Saya?

Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka akupun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas. Dan sekarang, umat-Mu yang hadir di sini telah kulihat memberikan persembahan sukarela kepada-Mu dengan sukacita. (1 Tawarikh 29:17)

“Saya sudah memberikan persembahan dalam jumlah besar kepada Tuhan. Apakah Tuhan berkenan pada persembahan saya?” Pernyataan seperti ini sering timbul dalam pikiran umat Tuhan. Mereka secara tidak sadar mengukur perkenan Tuhan dengan jumlah yang diberikan. Jika jumlah persembahan yang diberikan besar, Tuhan berkenan. Sebaliknya, jika persembahan yang diberikan kecil, Tuhan tidak berkenan. Apakah pendapat ini benar?

Tuhan adalah Tuhan yang melihat hati. Ia melihat motivasi di balik semua tindakan kita. Dalam memberikan persembahan, Tuhan terlebih dahulu melihat hati kita. Ada tiga kriteria yang Tuhan lihat dalam hati kita yang bisa kita pelajari dari kehidupan Daud.

Ikhlas
Tuhan mencari kerelaan dan ketulusan di dalam hati kita ketika kita memberikan persembahan kepada-Nya. Daud benar-benar mengerti kebenaran ini (1Taw. 29:17).

Kerelaan berhubungan dengan kondisi yang tidak merasa terpaksa. Rela berarti memberikan persembahan dengan bersukacita. Hati kita sama sekali tidak merasa sedih ketika memberikannya.

Ketulusan berhubungan dengan motivasi yang benar dan tidak ada maksud tersembunyi di dalamnya. Ketika kita memberikan persembahan kepada Tuhan, kita hanya memiliki tujuan untuk memberikan kepada Dia. Tidak ada motivasi untuk mendapatkan berkat dari Tuhan setelah kita memberikan persembahan kepada-Nya.

Oleh karena itu, kita harus menguji kerelaan dan ketulusan hati kita sebelum memberi persembahan.

Sadar bahwa semua kekayaan dari Tuhan
“Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu” (1Taw. 29:14).

Kita harus memiliki kesadaran bahwa semua kekayaan kita datang dari Tuhan. Tanpa kesadaran ini, kita akan merasa berjasa ketika memberikan persembahan. Hal ini kelak dapat membuat kita sombong di hadapan Tuhan.

Daud mengerti dengan jelas kebenaran ini sehingga dia menjaga hatinya untuk tidak merasa berjasa ketika memberi persembahan kepada Tuhan. Berulang kali ia menyatakan bahwa segala sesuatu yang dia persem-bahkan datang dari Tuhan sendiri. Kita juga harus memiliki hati yang sama dan menganggap segala kekayaan kita adalah milik Tuhan.

Senantiasa Tertuju pada Tuhan
“Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak, dan Israel, bapa-bapa kami, peliharalah untuk selama-lamanya kecenderungan hati umat-Mu yang demikian ini dan tetaplah tujukan hati mereka kepada-Mu” (1Taw. 29:18).
Daud ingin kecenderungan hatinya terus terjadi selamanya. Artinya, Daud berusaha memelihara hatinya dengan benar. Daud meminta kepada Tuhan untuk senantiasa membantu umat-Nya memiliki hati yang benar.

Persembahan yang melimpah
“Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus ....” (1Taw. 29:16).

Ketika Daud memiliki hati yang benar, dia bisa memberi persembahan dengan berlimpah. Bahkan, dia bisa mengajak semua umat Tuhan yang dia pimpin ikut memberi persembahan secara melimpah. Oleh karena itu, para pemimpin harus sungguh-sungguh memelihara hatinya sehingga semua orang yang dipimpin juga bisa memiliki hati yang berkenan kepada Tuhan. Amin!

Sumber: Bahana

BERIKAN PADA YESUS persembahan

MATIUS 14:17 Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." 14:18 Yesus berkata: /"Bawalah ke mari kepada-Ku."*

“Saya sudah memberikan persembahan dalam jumlah besar kepada Tuhan. Apakah Tuhan berkenan pada persembahan saya?” Pernyataan seperti ini sering timbul dalam pikiran umat Tuhan. Mereka secara tidak sadar mengukur perkenan Tuhan dengan jumlah yang diberikan. Jika jumlah persembahan yang diberikan besar, Tuhan berkenan. Sebaliknya, jika persembahan yang diberikan kecil, Tuhan tidak berkenan. Apakah pendapat ini benar?

Lihatlah Mereka berkata: Orang-orang itu perlu diberi makan. Para rasul hanya mendapat 5 potong roti dari 2 ekor ikan, bekal seorang anak. Lalu mereka memberikannya kepada Yesus dan Yesus membuat mujizat dengan menggandakan bekal anak itu sehingga cukup untuk memberi makan 5000 orang dan masih tersisa 12 bakul penuh.

Tahukah saudara berapa kali lipat yang Yesus gandakan dari persembahan saudara ?....

Tuhan adalah Tuhan yang melihat hati. Ia melihat motivasi di balik semua tindakan kita. Dalam memberikan persembahan, Tuhan terlebih dahulu melihat hati kita. Ada tiga kriteria yang Tuhan lihat dalam hati kita yang bisa kita pelajari dari kehidupan Daud.

Ikhlas
Tuhan mencari kerelaan dan ketulusan di dalam hati kita ketika kita memberikan persembahan kepada-Nya. Daud benar-benar mengerti kebenaran ini (1 Taw. 29:17).

Kerelaan berhubungan dengan kondisi yang tidak merasa terpaksa. Rela berarti memberikan persembahan dengan bersukacita. Hati kita sama sekali tidak merasa sedih ketika memberikannya.

Ketulusan berhubungan dengan motivasi yang benar dan tidak ada maksud tersembunyi di dalamnya. Ketika kita memberikan persembahan kepada Tuhan, kita hanya memiliki tujuan untuk memberikan kepada Dia. Tidak ada motivasi untuk mendapatkan berkat dari Tuhan setelah kita memberikan persembahan kepada-Nya.

Oleh karena itu, kita harus menguji kerelaan dan ketulusan hati kita sebelum memberi persembahan.

Sadar bahwa semua kekayaan dari Tuhan
“Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu” (1 Taw. 29:14).

Kita harus memiliki kesadaran bahwa semua kekayaan kita datang dari Tuhan. Tanpa kesadaran ini, kita akan merasa berjasa ketika memberikan persembahan. Hal ini kelak dapat membuat kita sombong di hadapan Tuhan.

Daud mengerti dengan jelas kebenaran ini sehingga dia menjaga hatinya untuk tidak merasa berjasa ketika memberi persembahan kepada Tuhan. Berulang kali ia menyatakan bahwa segala sesuatu yang dia persem-bahkan datang dari Tuhan sendiri. Kita juga harus memiliki hati yang sama dan menganggap segala kekayaan kita adalah milik Tuhan.

Senantiasa Tertuju pada Tuhan
“Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak, dan Israel, bapa-bapa kami, peliharalah untuk selama-lamanya kecenderungan hati umat-Mu yang demikian ini dan tetaplah tujukan hati mereka kepada-Mu” (1 Taw. 29:18).
Daud ingin kecenderungan hatinya terus terjadi selamanya. Artinya, Daud berusaha memelihara hatinya dengan benar. Daud meminta kepada Tuhan untuk senantiasa membantu umat-Nya memiliki hati yang benar.

Persembahan yang melimpah
“Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus ....” (1 Taw. 29:16).
Ketika Daud memiliki hati yang benar, dia bisa memberi persembahan dengan berlimpah. Bahkan, dia bisa mengajak semua umat Tuhan yang dia pimpin ikut memberi persembahan secara melimpah. Oleh karena itu, para pemimpin harus sungguh-sungguh memelihara hatinya sehingga semua orang yang dipimpin juga bisa memiliki hati yang berkenan kepada Tuhan. Amin!


Ini suatu gambaran yang Tuhan Yesus nyatakan
Kita harus tetap mengikuti untuk mendengarkan ajaran-Nya . Dia memenuhi kehendak orang banyak, dan ketika hari menjelang senja para rasul minta dia berhenti dan menyuruh orang banyak itu pulang. Mereka berkata: Orang-orang itu perlu diberi makan. Para rasul hanya mendapat 5 potong roti dari 2 ekor ikan, bekal seorang anak. Lalu mereka memberikannya kepada Yesus dan Yesus membuat mujizat dengan menggandakan bekal anak itu sehingga cukup untuk memberi makan 5000 orang dan masih tersisa 12 bakul penuh.

Yesus Kristus Juru Selamat Umat Manusia



Yesus, dalam Injil, dinyatakan sebagai Juru Selamat umat manusia. Selamat terhadap apa? Terhadap dosa. Tidak seorang pun luput dari dosa.
Pada waktu Adam berdosa di taman Eden, kita semua ada di situ melakukan apa yang Adam lakukan dan katakan. Karena kita semua adalah keturunan dan bagian dari Adam. Apakah ada seorang keturunan Adam yg tidak berdosa? Bahkan bayi-bayi yg belum dapat berpikir dan melakukan apa pun mempunyai sifat dosa dalam tubuh dan jiwa mereka. Setelah tubuh mereka mereka mulai berkembang mereka akan dgn sendirinya mulai melakukan berbagai jenis dosa tanpa perlu diajari. Seperti seekor anak kucing akan mengeong tanpa diajari.
Karena dosa itu melekat dalam diri seorang manusia, manusia, semuanya, menjadi tidak layak di hadapan Tuhan Mahasuci. Kebaikan manusia seperti kain kotor bagi Tuhan. Jadi jangan mimpi bisa selamat dengan jalan ‘mengumpulkan kredit’ sebanyak2nya. Dosa manusia tidak bisa ditebus atau dikompensasi dengan ‘perbuatan baik, amal dan ibadah’. Karena dalam melakukan semuanya itu, manusia melakukannya dalam sifat2 dosa yg melekat pada diri mereka. Tidak ada manusia yg bisa memenuhi standar yg ditetapkan oleh Allah.
Lebih jauh, akibat dosa itu yang pertama adalah kemerosotan manusia secara fisik. Tubuh manusia menjadi makin rusak (menua), dan akhirnya mati. Tubuh manusia juga semakin lemah dan rentan terhadap segala macam penyakit. Dosa manusia juga menyeret seluruh alam semesta dan makhluk2 di dalamnya. Bumi semakin kotor dan rusak, hewan-hewan ikut menderita, tumbuh2an dan lingkungan hidup semakin rusak. Segala sesuatu di kolong langit menjadi semakin memburuk. Standar kehidupan manusia semakin merosot. Belum lagi kejahatan dan penindasan dari manusia atas manusia. Puncaknya manusia harus menghadapi murka Allah atas dosa2 mereka dan menghadapi hukuman kekal..
Karena itu seluruh bangsa sangat merindukan akan datangnya seorang Penyelamat yg sanggup menyelamatkan mereka dari segala macam penderitaan tsb. Yesuslah orangnya!
Yesus datang dari dalam Allah Sang Pencipta. Ia selalu bersama-sama dengan Allah. Ia manjadi manusia yang datang ke dunia sebagai utusan Allah. Yesus tidak berdosa, taat, rendah hati dan sanggup memenuhi standar Allah dgn sempurna. Yesus yg tidak berdosa menjadi suatu korban, menjadi anak domba yang dikaruniakan Allah. Yesus yg menanggung dosa seluruh manusia. Dulu umat Yahudi diperintahkan Allah untuk secara periodic mengurbankan hewan2 tertentu sebagai korban penghapus dosa. Tapi semua itu hanyalah symbol dan bayangan dari kurban penghapus dosa yg sesunguhnya yaitu Yesus.
Karena itu Yesus menjadi sumber atau pokok keselamatan semua manusia yg berpegang kepadanya. Hanya Yesus manusia yg memenuhi syarat untuk memperoleh keselamatan dan masuk kesalah satu terminal terakhir manusia : surga.
Jadi bagaimana supaya bisa selamat? Sedangkan kita semua tidak bisa memenuhi syaratnya? Satu-satunya jalan adalah dengan menjadi milik Yesus. Dgn menjadi milik Yesus maka dosanya juga menjadi beban Yesus. Menjadi milik Yesus berarti tidak mempunyai hak milik apa-apa lagi. Bahkan dirinya sendiri bukan lagi miliknya. Ia dimiliki oleh Yesus. Suatu penyerahan diri yg total!
Tampaknya berat. Tapi itulah satu2nya jalan. Karena itu menjadi orang Kristen, menjadi milik Yesus, tidak diperuntukkan bagi para pengecut. Pasukan Yesus adalah sekelompok kecil pasukan elit yang tidak takut mati. Jalan Kristiani adalah jalan yg sempit, sulit dan tidak populer, karena itu tidak banyak orang mau memilih jalan tsb.
Yesus mengatakan bahwa setiap orang yg mau menjadi pengikutnya sebaiknya mempertimbangkan dan memperhitungkannya lebih dahulu dehgan masak2. Jangan seperti orang yg sudah mulai membangun rumah tetapi kemudian berhenti di tengah jalan karena kekurangan biaya.
Mengikut Yesus amat sangat berat. Tetapi Yesus mengatakan beban yg dia berikan itu ringan dan enak. Kuncinya adalah pada penyerahan yg total. Tanpa penyerahan total tdk seorang pun sanggup mengikut Yesus sampai akhir. Dengan menyerah total semuanya menjadi ringan, karena Yesus lah yg menanggungnya.
Tapi hanya merekalah yg punya masa depan. Yesuslah yg akan memegang segala kekuasaan di masa yang akan datang, di dunia akhirat, bahkan di kerajaan yg kekal. Ia, Yesus, adalah Raja yang diangkat dan ditinggikan oleh Allah. Ia mewarisi segala yang dipunyai Allah. Maka para pengikutnya, miliknya, pasukan elitnya, akan ikut memerintah bersamanya. Tapi itu bukan untuk para pengecut!

"...............iman yang bekerja oleh kasih (galatia 5:6)
"...............faith working through love. (galatian 5:6)

di amerika hari ini menjadi hari libur national karna untuk memperingati Martin Luther King Jr. yang adalah seorang yang dari kulit hitam yang mempunyai impian bahwa diamerika tidak ada lagi discriminasi atau perbedaan antara kulit hitam dan kulit putih. slogannya yang cukup terkenal adalah " kita harus mencoba hidup bersama sebagai saudara, karna bila tidak kita adalah seperti orang bodoh" 

pointnya adalah kasih. kita bisa banyak melakukan hal hal yang luar biasa tapi bila tanpa kasih adalah sia sia. kita bisa menjadi orang yang pintar sekalipun tapi bila tanpa kasih adalah sia sia. 

kasih adalah fondasi dari iman. bila kita ingin menjadi orang yang beriman, kita harus memiliki kasih. kasih terhadap Tuhan kita dan kasih terhadap saudara seiman atau sesama kita.

Doa. Tuhan yang penuh kasih. terus ajari kami Tuhan untuk memiliki kasih seperti yang Engau ingini. kirannya kasih yang ada pada kami nampak sehingga orang lain dapat melihat bahwa Engkau ada dalam hidup kami. didalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.amin